Pelita Pengok : Berkreasi dari Kotak Susu


Jogja 18/11, Sesosok kepala bocah muncul dari balik pintu, " Kak, hari ini jadi membuat kotak pensil, nggak?" tanya si anak penuh harap.
"Jadi.. Tunggu sebentar, ya. tunggu di ruang Perpustakaan sambil baca-baca, ya!" sahut Kak Puji yang masih sibuk menyiapkan alat dan bahannya. Anak-anak itu sangat bersemangat, karena memang rencana berkarya hari ini sudah tersebar sejak beberapa saat hari yang lalu, dan yang lebih membuat bersemangat karena sebagian dari mereka membawa sendiri kotak susunya. Bahkan Syafa, salah satu diantara mereka menyumbangkan puluhan kotak susu sebagai bahan kegiatan hari ini.
Jam 3 lebih sedikit, anak - anak sudah berkumpul di ruang perpustakaan. Dengan ditemani Kak Nur, Kak puji memulai kegiatan. Tema kegiatan hari ini adalah membuat tempat pensil dari kotak susu.
Aturan main dijelaskan, contoh karya diperlihatkan, panduan membuat karya dijelaskan, alat dan bahan dibagikan, dan.... saatnya berkarya.
Berbagi dan berkarya bersama.

Semua dibebaskan berkreasi pada koridornya. Tapi sebisa mungkin dikerjakan sendiri. yak, semacam melatih kemandirian. Ada yang bingung adalah hal yang wajar. Seperti juga kadang ada yang berebut lem atau alat lain yang harusnya dipakai bersama. hahaha.... kenikmatan berkarya mengalahkan semua kesulitan. Ada yang salah tempel atau ada hiasan yang lepas, cukup disikapi dengan gelak tawa oknum yang bersangkutan.. hahaha, serasa pingin kembali ke dunia kanak-kanak.
Kak Puji sedang memberi petunjuk kepada Syafa.
 
Semua karya terlihat indah. Dan semoga kita semua tiba pada pemahaman bahwa masih ada manfaat dibalik tumpukan barang bekas di sekitar kita. Itu point-nya.  Sambil menyelesaikan karya merekapun merancang kegiatan pada hari Jum'at yang akan datang. Mudah-mudahan teman-teman yang tidak datang bisa bergabung. Dan ini dia karya kami.

Kiri ke kanan : Tamim, Krisna, Riska, Kak Nur, Dita, dan Syafa.

Sampai jumpa..!!

Sebuah Catatan Perjalanan: Dari Sukunan, Badegan, ke Piyungan

Jogjakarta, 1 Mei 2011


Alam memberkati kami!
Itulah kesan yang didapat dari perjalan ini. Pagi ini kami mendapat suhu dan kelembaban yang pas untuk memulai perjalan. Jam 9 peserta Fieldtrip Lingkungan (kali ini temanya: SAMPAH) sudah berkumpul di pekarangan Klenthing. Tujuan pertama kami adalah Desa Sukunan! Sukunan, here we come…!


Sukunan adalah Kampung Wisata Lingkungan yang terletak di Kelurahan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Sleman atau sekitar 5 Km dari arah Barat Tugu Yogyakarta. Sukunan dikenal luas sebagai desa yang mengelola sampah secara mandiri.

Di Sukunan, sampah mulai dikelola dari tingkat rumah tangga. Hal ini lah yang menjadi kunci keberhasilan penanganan sampah, dan sepertinya kebiasaan positif ini telah menjadi budaya warga sukunan. Mengubah prilaku masyarakat tentu bukanlah upaya yang mudah, tips dari desa Sukunan untuk mengubah prilaku masyarakat agar menyadari pentingnya mengelola sampah adalah dengan melakukan pendekatan yang menyentuh pada kebutuhan dasar masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat dari unit-unit usaha yang ada di Sukunan, diantaranya:

a. Unit Usaha Penjualan Sampah
b. Unit Usaha Bengkel Sampah
c. Unit Usaha Kerajinan Daur Ulang Sampah
d. Unit Usaha Bak Kompos






Pengelolaan sampah di Sukunan membuka berbagai manfaat, salah satunya manfaat ekonomi yang ditunjukan dalam bentuk “panen kompos”, “penjualan sampah” dan “pembuatan kerajinan daur ulang” yang memiliki nilai ekonomi yang tidak sedikit, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga.

Untuk sampah styrofoam yang tak mudah terurai, warga sukunan punya solusi, yaitu dengan menjadikannya batako yang ramah lingkungan. Penggunaan penggunaan styrofoam bisa menghemat 50% kebutuhan pasir ketimbang penggunaan batu bata. Bahan baku styrofoam juga lebih unggul dibandingkan dengan semen karena dalam styrofoam terkandung banyak serat. Ini membuat fondasi bangunan yang menggunakan styrofoam lebih kuat.

Tak hanya pengelolaan sampah rumah tangga yang dikembangkan di Desa Sukunan, dari kunjungan kami kesana, ternyata disana kami menemukan instalasi pengolahan air dan juga instalasi biogas. Bahkan mereka memiliki 5 instalasi pengolahan air limbah komunal untuk mengelola sampah cair. Sukunan juga mendirikan kandang sapi terpadu agar kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan biogas untuk kepentingan bersama.

Dan satu lagi yang saya pribadi -selaku perempuan- nantikan sejak lama adalah adanya pembalut yang bisa dipakai ulang. Memang pembalut seperti itu sudah ada dan dipasarkan, tapi masih terbatas karena harga dan aksesnya yang sulit. Warga Sukunan membuat inovasi membuat pembalut yang dapat dipakai ulang sebagai pengganti pembalut yang dijual dipasaran. Sampai saat ini pembalut dan popok belum ada solusi untuk mengelolanya selain dibuang di TPA. Hal ini bila dibiarkan, tentunya akan menghambat sikap positip menuju Zero Waste.

Dari Sukunan, terbanglah kami ke Dusun Badegan, Bantul, DIY. Disini kami akhirnya menyaksikan sendiri adanya Bank Sampah yang dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah. Penamaan Bank Sampah ditujukan untuk menunjukan aktivitas yang dilakukan gerakan memilah dan mendaur ulang sampah ini, yaitu menyimpan atau menabung sama halnya di bank, namun di sini bukan uang yang disimpan atau ditabung, tetapi sampah yang dianggap memiliki nilai ekonomi dan dapat diuangkan setelah 3 (tiga) bulan.


Susunan struktur managemen Bank Sampah Gemah Ripah terdiri atas: direktur, wakil direktur, Sekretaris, Bendahara dan Koordinator/Teller. Aktivitas lembaga ini dijalankan setiap Senin, Rabu dan Jumat mulai jam 16.00 sampai menjelang magrib. Pada saat nasabah menyetorkan sampah, nasabah mendapatkan bukti setoran dari teller yang kemudian di catat dalam buku tabungan. Harga sampah bervariasi tergantung jenisnya.

Sebenarnya Bank Sampah adalah salah satu bagian dari Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan (BKKL) yang memiliki tiga divisi yang salah satunya Bank Sampah Gemah Ripah, dan divisi lainnya adalah divisi daur ulang sampah stereofoam dan daur ulang sampah plastik. Divisi-divisi ini bekerja secara sinergis, Bank Sampah yang menampung sampah, kemudian divisi-divisi lainnya mengolahnya. Ada juga satu lagi divisi penjualan yang disebut dengan Disto Daur Ulang.

Pemberhentian terakhir kita adalah TPA Piyungan. Tidak banyak kata yang ingin diungkapkan setelah sampai di pemberhentian ini, hanya ingin mengatakan: “Kita harus bertindak!”.


Susana muram saat meninggalkan TPA piyungan. Sesampainya kembali di Klenthing, hujan pun turun disertai kilat menyambar-nyambar menemani renungan perjalanan dari Sukunan, Badegan ke Piyungan.

Bless the earth ....
by: Nurul Hidayah

Satu Hati Hijaukan Negeri


"Satu Hati Hijaukan Negeri" adalah salah satu program kegiatan dari Klenthing yogyakarta berupa penanaman pohon (bersama) oleh anak-anak. Dalam kegiatan ini anak-anak diajak untuk bersama-sama menanam pohon sebagai salah satu manifestasi peran serta mereka dalam menjaga lingkungan.
Jika kita melihat dari sisi efektifitas suatu pekerjaan, tentu akan menjadi lebih ribet ketika melibatkan anak-anak dalam pekerjaan tanam-menanam ini. Tentu  pekerjaan akan memerlukan waktu lebih lama dan hasilnya pun entah seperti apa.Tetapi.. kita berharap bahwa bukan dari sisi tersebut kita melihat kegiatan ini. Kami (Klenthing) berharap bahwa di dalam kegiatan ini bisa diambil sebuah proses pendidikan lingkungan bagi anak-anak.
Kegiatan ini sendiri diawali dari beberapa asumsi, diantaranya :
-          Pada dasarnya anak-anak ingin terlibat dalam setiap program kegiatan yang terjadi di masyarakat. (sesuai kapasitasnya)
-          Pengakuan kita akan keberadaan mereka (dengan melibatkan mereka dalam program kegiatan) akan memberikan kebanggaan dan rasa “Heroik” dalam diri anak-anak.
-          Rasa heroik yang tumbuh pada diri anak akhirnya bisa menumbuhkan perhatian dan kepedulian mereka terhadap lingkungan yang akhirnya memudahkan kita dalam memberikan pendidikan lingkungan pada masa selanjutnya.


"Satu Hati Hijaukan Negeri" juga merupakan salah satu pengembangan dari beberapa konsep pendidikan lingkungan yang sudah dijalankan. Dari kegiatan ini pula diharapkan muncul jawaban dari beberapa persoalan yang muncul dalam proses pendidikan lingkungan untuk anak. Persoalan yang sering muncul adalah masalah motivasi anak yang tak kunjung muncul atau bahkan hilang sebelum berkembang.

Dengan membangun rasa bangga / heroik  diharapkan imajinasi anak membawa diri mereka pada kesadaran bahwa mereka mempunyai kapasitas dan posisi yang penting dalam gerak upaya pelestarian lingkungan hidup. selain itu rasa bangga/heroik dalam diri mereka diharapkan (untuk kedepannya) memotivasi mereka untuk belajar dan berbuat lebih baik/ramah terhadap lingkungan hidup mereka.


"Satu Hati Hijaukan Negeri" edisi pertama ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 17 Oktober 2010, di lingkungan RT 37 RW 10 Pengok, Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta. 
Ada kostum yang akan dikenakan oleh anak-anak itu untuk menyatukan mereka dalam suatu kesatuan dan misi. Seperti apa kostumnya bisa di lihat di KOSTUM

Pada akhirnya, kita tak akan tahu seberapa jauh kita bisa berbuat tanpa kita mencobanya.


Saling dukung, bahu-membahu mutlak diperlukan karena kita tak bisa melepaskan diri dari kenyataan bahwa kita manusia biasa yang menjalani hidup dengan berbagai keterbatasan kita masing-masing...
"SATU HATI HIJAUKAN NEGERI"
by : Harry dom